Custom Search

2008-06-11

ANTOLOGI THO 8

Jangan katakan padaku
Yang menyatakan emosinya adalah dia yang tertua
Atau dia yang menatap dengan pandangan buaya
Ataupun dia yang berada di ibukota daerah
Bukan amarah yang menghinggapiku
Tertawalah aku karena segala polah tingkah


Karang Penang, Sampang, 30 Mei 2008, 06:39
Panggil aku I’in



Tawa pelipur lara?
Bukan aku yang melakukannya
Tawa pembunuh ular amarah?
Sekalipun aku tak pernah memilikinya
Tapi entah dengan dia
Yang kini memandangku dengan setengah mata buaya
Bagaimana aku tidak tertawa?
Terlihat bagiku satu kupu-kupu dan buaya
Saling bermain api emosi
Aku tiada punya mata dan kulit buaya
Tiada sayap kupu-kupu di punggungku
Topeng kumbang sudah kubuang
Sekedar gurauanku dengan waktu
Menggelitikku mencari tahu


Karang Penang, Sampang, 30 Mei 2008, 07:02
Panggil aku I’in

Beberapa kedelai berbentuk kotak putih yang lembut
Dicobanya suatu beda
Dari rasa, bau dan bentuknya
Dia perlihatkan di depan mataku
Dia tawarkan padaku
Sebagai sajian tanpa teman
Racunnya membuatku berkulit buaya
Kutarik lidahku dari mencicipinya
Aku lebih tertarik menyulut uang kemarau


Karang Penang, Sampang, 30 Mei 2008, 07:02
Panggil aku I’in


Pemuja berhala mempermainkan yang belum membaca dengan dia
Pembawa berita membaca dengan dia
Ahli taktik menyusun dia untuk menjungkir balikkan fakta
Bisa saja dia menjemput pahala
Asal jangan pernah melupakan dosa yang membuntuti
Luka darinya lebih mengena dan membabi buta
Karena dia adalah senjata
Dia sisi tajam pedang logika
Apa atau siapakah gerangan dia?
Dialah kata


Karang Penang, Sampang, 30 Mei 2008, 20:38
Panggil aku I’in

Kupu-kupu sedang memainkan sepasan sayapnya
Buaya sedang mengibaskan ekornya
Biaya tua datang menguapkan mulutnya
Disekitar mereka tampak mangsa buaya renta sedang bingung
Di depanku
Turunan hawa dengan dua mata berlensa empat
Lebih membuai mataku daripada kepakan sayap kupu-kupu


Karang Penang, Sampang, 30 Mei 2008, 20:51
Panggil aku I’in

Kulit keras buaya hanya pajangan
Mudah sekali kambing mengulitinya
Dua kupu-kupu hanya terbungkam
Gerakan sia-sia mereka lakukan
Dan mereka bukan kupu-kupu ulat sutra
Singa?
Apa yang dilakukannya?
Aumannya tiada bergema
Dengungan capung membuat buaya dan kupu-kupu bingung
Kancil melonjak-lonjak diatas kepala buaya
Duduk dengan sikap tubuh dominan
Ditemani gulungan tembakau kemarau
Sudut pandang ketiga hanya tertawa


Karang Penang, Sampang, 30 Mei 2008, 21:31
Panggil aku I’in
Artikel Terkait
123456789101112131415