Custom Search

2007-03-08

PULANG


Aku mengunci pintu kamar dan merebahkan tubuhku di atas ranjang. Barang-barangku masih teronggok di sudut kamar. Kelelahan di perjalanan membuatku tertidur.

Tok….Tok….Tok……
"Zahwa….sudah sore nak, sudah sholat Ashar belum?". Suara ketokan pintu Uma membangunkanku. Aku bergegas bangun dan membuka pintu kamar.
"Zahwa..! kau belum berganti pakaian sejak tadi." Uma terkejut melihatku masih mengenakan jilbab dan pakaian lengkap dari pondok. Di pondokku setiap anak yang akan pulang di haruskan memakai seragam pondok, yaitu baju kurung dan rok panjang berwarna biru muda serta jilbab biru berbunga-bunga.
"Zahwa tadi ketiduran, belum sempat berganti pakaian" jawabku berdalih.

Sumber : pengayuhkereta.files.wordpress.com
"Sudahlah, sekarang cepat mandi dan sholat, hari sudah sore sebentarlagi maghrib." Kemudian Uma pergi dan aku kembali menutup kamar. Ku lihat kamarku masih berantakan. Jarum panjang jam dinding di atas ranjang menunjukkan angka 4. "Berarti hampir dua jam aku tertidur" ujarku dalam hati. Aku segera membereskan barang-barangku dan bergegas mandi. Setelah sholat Ashar, aku pergi ke ruang makan. Maklum sejak tadi siang aku belum makan apa-apa. Di atas meja makan terdapat sepiring pisang goreng, ku ambil sepotong dan ku bawa ke ruang tengah. Aku menghidupkan TV dan mencari channel yang bagus. Sedang asyik-asyiknya menonton TV, tiba-tiba Alef, adikku yang masih duduk di kelas satu MI datang dan mengambil remote di depanku. Langsung saja acara reality show yang ku tonton berubah menjadi tempat bermainnya Tom and Jerry.

"Eh, ijin dulu kalau mau mengganti channel, sini kakak masih nonton acara reality show!." Aku mengambil remote di tangannya dan mengganti channel TV.
"Alef mau nonton Tom and Jerry!." Alef merampas remote yang ku pegang, tentu saja tidak aku berikan.
"Tadi kakak dulu yang nonton, jadi kakak yang menentukan channelnya"
"Nggak, Alef mau nonton Tom and Jerry"
"Alef nanti saja nontonnya, acara kakak lagi seru nih!"
"Nggak mau!!, pokoknya Alef mau nonton sekarang"
"Ya udah tonton saja!". Aku tetap memegang remote dan menonton acara reality show.
"Uma……aku nggak boleh nonton TV sama kak Zahwa." Tiba-tiba Alef berlari ke belakang menemui Uma yang menemani tamu. Tentu saja aku geram dibuatnya. Sebentarlagi Uma pasti datang dan memarahiku. Aku segera mematikan TV dan pergi ke kamar.
"Zahwa…." Terdengar suara Uma dari ruang tengah.
"Ya Ma, ada apa?." Aku bergegas ke ruang tengah, kalau tidak bisa-bisa aku kena marah dua kali.
"Adikmu mau nonton TV, jangan ditonton sendirian. Kamu sudah besar, cobalah mengalah pada Alef. Uma ada tamu, tidak baik kalau kalian membuat ribut."
"Baik Ma." Aku menoleh pada Alef yang sudah asyik dengan Tom and Jerrynya. Dia cuek saja mendengar kata-kata Uma padaku, "Dasar anak kecil" ujarku dalam hati.
"Uma menemani tamu dulu, ingat! jangan membuat keributan lagi." Uma kemudian pergi kebelakang.
"Baik Ma." Setelah Uma ke belakang aku pun masuk kembali ke dalam kamar. Kamarku sudah tampak rapi dan bersih, semua barang bawaan dari pondok sudah diletakkan di lemari. Beberapa menit lagi maghrib, aku bergegas ke kamar mandi dan mengambil wudhu. Tak berapa lama adzan maghrib pun terdengar dari masjid di depan rumah. Rumahku terletak tepat di sebelah masjid, masjid ini di bangun oleh kakekku yang sekaligus pendiri pondok pesantren Al-mabrur. Setelah kakek meninggal setahun yang lalu, pondok pesantren ini diambil alih oleh Aba. Maklum Aba adalah anak tertua kakek.

Aku sholat berjamaah dengan Uma, sedangkan Aba menjadi imam di masjid. Sampai saat ini aku belum bertemu Aba. Waktu aku tiba di rumah siang tadi Aba masih menghadiri undangan dan baru datang menjelang maghrib. Setelah itu Aba langsung mengimami sholat Maghrib di masjid. Mungkin sebentar lagi aku baru bertemu Aba, itupun kalau Aba tidak memberikan pengajian kitab kuning di Masjid.
Selesai sholat aku dan Uma menunggu Aba dan dua adikku di ruang makan. Makanan telah disiapkan Mbak Ningsih dan Mbak Ayu sejak tadi. Mbak Ningsih dan Mbak Ayu adalah khadam di rumahku. Sudah hampir lima tahun mereka di sini sehingga aku dan keluargaku sudah menganggap mereka sebagai keluarga sendiri. Sambil menunggu kedatangan Aba, Zafir dan Alef, aku menanyakan alasan mengapa aku di jemput tiba-tiba pada Uma. Biasanya sebelum menjemputku, Aba atau Uma memberitahukan sebelumnya jika aku harus pulang. Berbeda dengan hari ini, tiba-tiba pengasuh pondokku yang juga paman sepupuku memanggil dan memberitahukan bahwa Husein menjemputku pulang. Husein adalah santri di sini dan merangkap sebagai sopir keluargaku. Di perjalanan aku menanyakan pada Husein mengapa aku di jemput pulang tiba-tiba, tapi dia mengatakan tidak tahu, hanya disuruh Aba untuk menjemputku. Uma hanya tersenyum mendengar pertanyaanku.

"Aba nanti akan memberitahu alasannya?"
"Assalamualaikum....."
"Waalaikumsalam….." jawab aku dan Uma bersama-sama. Aku berdiri menyalami tangan Aba.
"Baik-baik saja Zahwa." Tanya Aba kepadaku sambil duduk di kursi paling ujung.
"Baik, Ba."
"Zafir sareng Alef ka’dhimmah, Ba" tanya Uma pada Aba yang hanya datang sendirian.
"Pola laggi amain, sakejja’ agi……….. Belum sempat Aba menjawab, dua adikku sudah datang dan berebut kursi di dekat Aba.
"Alef duduk di dekat Aba!" teriak Alef.
"Sekarang giliran Zafir, tadi pagi Alef sudah duduk di dekat Aba" kata zafir sambil duduk di kursi sebelah Aba.
"Kak Zafir tadi malam juga duduk di dekat Aba, jadi sekarang Alef yang duduk di dekat Aba." Alef mendorong Zafir dari kursi.
"Sudah! kalian tidak boleh ribut, Zafir sekarang duduk di dekat Uma, besok pagi Zafir duduk di dekat Aba." Uma menghentikan keributan dua adikku. Dengan wajah cemberut Zafir berdiri dan duduk di dekat Uma. Meja makan kami terdiri dari lima kursi. Satu kursi di ujung dan empat lainnya berhadapan. Kursi di ujung adalah kursi Aba, di sebelah kanan Aba tempat duduk Uma. Sedangkan dua adikku bergantian duduk di sebelah kiri Aba dan di sebelah kanan Uma. Namun setiap hari mereka pasti ribut tentang giliran siapa yang duduk di dekat Aba. Mereka sangat senang jika duduk di dekat Aba, mungkin karena mereka jarang bertemu Aba, maklum Aba jarang di rumah karena sering menghadiri undangan pengajian ke luar kota. Aku sendiri biasa duduk berhadapan dengan Zafir atau Alef. Zafir adalah adik pertamaku, sekarang dia duduk di kelas enam MI. Sebentar lagi lulus dan Aba sudah merencanakan untuk memasukkan Zafir ke pondok pesantren Assalam di Madura. Selain bagus, pondok pesantren itu juga milik kakek buyut kami dan Zafir di minta Paman Abdus untuk dididik di sana dan diperkenalkan dengan keluarga kami di Madura. Paman Abdus adalah saudara sepupu Aba sekaligus pengasuh pondok pesantren Assalam. Selain itu Aba juga tidak mau jika kami melanjutkan sekolah disini, alasannya kami tidak akan bisa belajar mandiri jika terus hidup bersama orang tua.

Setelah makan aku di minta Aba ke ruang tengah sedangkan Uma memberikan pengajian kitab kuning pada santri putri. Zafir dan Alef masuk kamar karena harus belajar buat besok. Aku duduk berhadapan dengan Aba di ruang tengah.
"Zahwa kapan ujian akhirnya?" tanya Aba membuka perbincangan.
"Dua bulan lagi, Ba."
"Hmmmmm." Aba menarik nafas panjang. "Zahwa dekat sama Asykar, anak Paman Hasbi yang di Madura?"
"Biasa saja, Ba"
"Sebentar lagi Asykar lulus dari sekolahnya di Mesir, waktu Paman Hasbi kesini seminggu yang lalu, Aba dan Paman Hasbi sepakat untuk menjodohkan Zahwa dengan Asykar, lagipula Zahwa sebentar lagi juga lulus."

Perkataan Aba sangat mengejutkan apalagi selama ini Aba dan Uma tidak pernah bilang akan menjodohkanku walaupun di keluarga kami tradisi itu ada tapi aku tidak menyangka kalau secepat ini terjadi padaku.
"Zahwa dan Asykar sudah sama-sama kenal, begitu juga dengan keluarga Aba dan Paman Hasbi. Aba dan Paman Hasbi tidak keberatan jika Zahwa dan Asykar tidak setuju tapi menurut Aba, Asykar itu anak yang baik dan cocok dengan Zahwa." Aba memandangku yang menunduk dihadapannya. Aku tidak tahu apa yang harus dikatakan tentang perjodohan ini. Tiba-tiba Mbak Ningsih masuk dan memberitahukan bahwa ada tamu. Aku menarik nafas lega dengan kabar dari Mbak Ningsih.
"Besok Paman Hasbi dan Bibi Nafis kesini untuk melamar, sambut mereka dengan baik." Aba berdiri meninggalkanku untuk menemui tamu. Aku pun beranjak hendak ke kamar tapi ku urungkan dan pergi ke dapur. Ku lihat Mbak Ningsih sedang membuat membuat minuman untuk tamu.
"Mbak…"
"Enggi, Ning" jawab Mbak Ningsih terkejut melihat aku sudah di dapur.
"Buatkan teh hangat, antarkan ke kamar ya Mbak…"
"Enggi, Ning." Aku meninggalkan Mbak Ningsih dan masuk kamar. Aku duduk di tepi ranjang memikirkan perjodohanku dengan Kak Asykar. Aku tak menduga sama sekali bahwa kepulanganku hari ini untuk dijodohkan dan besok Paman Hasbi dan Bibi Nafis akan datang untuk melamarku. Aku menarik nafas panjang dan melepaskan jilbab.

Tok….tok….tok…..
Aku berdiri dan membuka pintu, Mbak Ningsih berdiri di depan pintu sambil membawa nampan berisi teh hangat pesananku.
"Ka’dhintoh Ning" kata Mbak Ningsih sambil menyerahkan segelas teh hangat kepadaku.
"Terima kasih Mbak." Aku mengambil teh hangat dari tangannya dan mengunci pintu kamar. Aku kembali duduk dan meminum teh. Terdengar suara Adzan Isya dari masjid, aku segera mengambil wudhu dan sholat Isya sendirian. Setelah sholat aku berdoa meminta petunjuk tentang perjodohanku. Aku melipat mukena dan mencoba tidur, tapi tidak bisa, ucapan Aba terngiang-ngiang di telingaku. "Aku hendak dilamar besok" ucapku berkali-kali di dalam hati. Padahal aku masih ingin melanjutkan kuliah tapi…… Aku teringat Kak Raya, saudara sepupuku. Setahu yang lalu dia juga bernasib sama sepertiku, dijodohkan dengan sepupunya. Kak Raya menangis saat itu tapi dia tidak berhak menentang ataupun menolak, karena perjodohan dikeluarga kami sama dengan perintah yang tak boleh di langgar. Akankah aku juga bernasib sama dengan Kak Raya…..hatiku berontak dan tidak terima.
"Mungkin ini yang terbaik bagimu" ujar hatiku yang lain.
"Tidak bisa, kau harus berani menolak"
"Abamu tentu menginginkan yang terbaik bagi putrinya"
"Tapi jodoh itu adalah hakmu, sebab kaulah yang akan menjalankannya bukan Abamu"
"Kau masih bisa melanjutkan kuliah kalau kau mau"
"Jangan percaya, setelah menikah kau akan diberikan tugas sebagai istri seorang pengasuh pondok pesantren dan tidak akan diijinkan untuk kuliah"
"Sudah………." Aku berkata pada diriku sendiri. Ku tatap foto keluarga di atas meja meja belajar, di situ ada Aba, Uma, Zafir, Alef, dan aku. Wajah Aba begitu teduh dan berwibawa sedangkan Uma terlihat cantik dan penuh kasih sayang. Aku tak mungkin melukai hati mereka berdua. Airmataku menetes, mengalir memenuhi telaga warna di hatiku, Aku menangis…..

Pukul 09.00 WIB, semuanya sudah siap. Aba dan Uma telah berpakaian rapi dan duduk di ruang tamu, dua adikku ada di sekolah. Makanan dan telah disiapkan di meja makan. Kue dan buah-buahan tersenyum manis di atas meja ruang tamu. Aku mematut diri di kamar. Uma sudah menyiapkan semuanya termasuk pakaianku.

Terdengar suara mobil berhenti, sepertinya Paman Hasbi dan Bibi Nafis sudah tiba. Aku keluar dari kamar menuju ruang tengah. Uma dan Bibi Nafis menyambut kedatanganku, "Zahwa, cantik sekali" puji Bibi Nafis kepadaku. Aku tersenyum dan menyalami tangannya, "Terima kasih, Bi."
Aku, Uma dan Bibi Nafis duduk di ruang tengah sedangkan Aba dan Paman Habi di ruang tamu. Sebentar lagi aku akan dipanggil Aba ke ruang tamu untuk menjawab lamaran Paman Hasbi. Sebentar lagi……













Keterangan :
Zafir sareng Alef ka’dhimmah : Zafir dan Alef mana
Pola laggi amain, sakejja’ agi : Mungkin masih bermain sebentar lagi
Enggi, Ning : Iya Ning (panggilan kepada putri kiyai)
Ka’dhintoh : Ini
Artikel Terkait
123456789101112131415